Condet
Condet meruapakan daerah yang terletak di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur. Wilayah Condet mencakup 3 kelurahan, yakni Kelurahan Batu Ampar seluas 255, 025 hektare yang terdiri atas 4 RW dan 39 RT, Bale Kambang seluas 161, 080 hektare yang terdiri dari 3 RW dan 20 RT dan Kampung Tengah 214, 8 hektare yang terdiri atas 5 RW dan 29 RT.
Daerah ini pernah dijadikan sebagai Cagar Budaya Betawi oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Ada beberapa factor yang menyebabkan Bang Ali Sadikin memilih Condet sebagai Cagar Budaya Betawi pada saat itu,yakni
· 90% masyarakat Condet merupakan orang asli Betawi.
· 60% masyarakatnya bertani slak dan duku, yang merupakan komoditi utama daerah tersebut
· 20% masyarakatnya bertani buah-buahan yang lain.
· 90% masyarakat Condet merupakan orang asli Betawi.
· 60% masyarakatnya bertani slak dan duku, yang merupakan komoditi utama daerah tersebut
· 20% masyarakatnya bertani buah-buahan yang lain.
Namun hal ini gagal diwujudkan, karena daerah Condet kini telah dihuni oleh banyak warga pendatang, sehingga orang asli Condetnya (orang Betawi) pun banyak yang pindah ke luar Condet. Menurut Bapak Abdul Kodir selaku warga asli Condet dan juga ketua Komunitas Ciliwung Condet (KCC), bahwa pada sebelum tahun 1980/1990an, etnis local di Condet masih sekitar 80% dari seluruh masyarakat Condet.
Selain itu wilayah alam Condet yang telah banyak berubah, yang dulunya banyak kebun dan pohon-pohon, namun sekarang kini tergantikan oleh rumah-rumah orang pendatang dan juga gedung bertingkat. Hanya sedikit yang tersisa, yakni di sekitar Base Campnya Komunitas Ciliwung Condet, yang beralamatkan di Jalan Pucung nomor 6 kelurahan Bale Kambang. Ketika saya dan teman saya berkunjung ke Komunitas Condet Ciliwung, di sana saya masih merasakan suasana yang benar-benar asri, yang masih terjaga hingga saat ini. KCC sendiri didirikan sekitar tahun 1990an, yang berawal dari kelompok-kelompok tani yang peduli akan keadaan lingkungan sekitar.
Asal – Usul Nama Condet
Beragam versi menyebutkan tentang asal mulanya nama Condet. Ada yang mengatakan Condet diambil dari nama anak sungai Ciliwung, yakni Ci Ondet. Ada juga yang berasal dari nama pohon ondet, ondeh atau yang mempunyai nama ilmiah Antidesma Diandrum Sprg. Ada yang bilang bahwa Condet itu berasal dari kata Codet (bekas luka) yang terdapat di jidat Pangeran Geger, seorang tokoh terkenal dari Condet. Versi lain menyebutkan bahwa Condet diambil dari pasangan suami isteri yang bernama Mercon dan Pedet, sehingga disingkat menjadi Condet.
Namun, untuk data yang pertama kali menyebut kata Condet terdapat pada catatan perjalanan Abraham van Riebeeck, waktu masih menjabat sebagai Direktur Jenderal (Gubernur Jenderal) VOC di Batavia. Dalam catatannya yang tertanggal 24 September 1709, Abraham van Riebeeck beserta anak buahnya berjalan melalui anak sungai Ci Ondet. Bunyi catatan tersebut ialah, : “Over mijn laant Paroeng Combale,Ratudjaja, Depok, Sringsing naar het hoodft van de spruijt Tsji Ondet” ( Melalui tanah milik saya di Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, Sringsing menuju hulu Ci Ondet) (De Haan 1911:320)
Keterangan mengenai Condet juga terdapat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya, yang dibuat sebelum pembuangannya di Negapatnam, India. Isinya bahwa Pangeran Purbaya menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak-anak dan isterinya yang ditinggalkan (De Haan, 1920:250). Surat wasiat ini disahkan oleh Notaris Reguleth pada tanggal 25 April 1716.
Peristiwa Sejarah di Condet
Ketika pemerintahan colonial Belanda berkuasa di Condet, mereka melakukan tindakan yang sewenang-wenang terhadap rakyat Condet. Hal ini mereka lakukan dengan cara menarik iuran sebesar 25 sen per minggu (saat itu 4 sen cukup untuk membeli 1 kilogram beras) pada rakyat Condet. Mereka yang tidak membayar, diwajibkan untuk melakukan kerja paksa di sawah-sawah atau tanah milik pemerintah Belanda. Sedangkan apabila pemilik kebun atau sawah tidak mampu membayarkan pajaknya, maka mereka tidak diperbolehkan untuk memanen hasil perkebunan mereka.
Hal ini kemudian menimbulkan sikap amarah masyarakat Condet. Dengan dipimpin oleh Haji Entong Gendut (ada pula yang memanggilnya Haji Tong Gendut), masyarakat Condet melakukan pemberontakan. Pada tanggal 5 April 1916 tepatnya, Haji Tong Gendut bersama kurang lebih 30 orang masyarakat Condet menyerbu pasukan kompeni di Landhuis (Vila Nova). Mereka terus menyerang hingga akhirnya pasukan Belanda menerima bala bantuan dari Batavia. Pasukan Haji Entong Gendut pun berhasil ditumpas. Sementara Haji Entong Gendut sendiri tewas dalam pemberontakan tersebut. Mengenai kematian Haji Entong Gendut, ada dua versi tentang kematiannya. Menurut Haji Sapri Josen, yang juga merupakan cucu dari Haji Entong Gendut, mengatakan bahwa Haji Entong Gendut tewas di daerah Batu Ampar. Sedangkan versi yang lain, yakni menurut Haji Entong bin Syaifchun, yang merupakan saksi mata mengatakan bahwa jasad Haji Entong Gendut dibawa oleh pasukan Belanda kemudian diceburkan ke laut.
Setelah peristiwa pemberontakan tersebut, sikap pemerintah colonial Belanda semakin kejam. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat Condet yang takut dan kemudian pindah ke beberapa daerah. Banyak pula orang-orang setempat terutama pemuda Condet yang tidak berani mengakui kalau mereka merupakan warga Condet. Sebab hal ini akan menyebabkan mereka ditangkap oleh kompeni dan mungkin bisa dihukum mati.
Ilustrasi Haji Entong Gendut
Tokoh-Tokoh dalam Masyarakat Condet
Selain Haji Entong Gendut, Condet juga memilik tokoh-tokoh lain yang berperan besar dalam perkembangan daerah Condet itu sendiri. Di sini ada beberapa tokoh yang akan dibahas.
1. Haji Muhammad (almarhum)
Beliau merupakan mantan lurah yang wafat pada tahun 1977. Lurah Muhammad merupakan orang asli Condet yang dikenal sebagai lurah yang jujur dan juga memperhatikan segala macam kebutuhan rakyat. Selain berprofesi sebagai lurah, Haji Muhammad juga dikenal sebagai seorang ustadz. Banyak orang menilai bahwa lurah Muhammad masih jauh lebih baik dibandingkan dengan lurah-lurah sesudahnya.
2. K.H. Syarbini
Beliau merupakan seorang ulama yang memimpin masjid Batu Ampar. Sebagai seorang ulama, ia rajin memberikan ceramah-ceramah keagamaan terutama untuk majelis ta’lim di Masjid Batu Ampar setiap minggunya. Nama beliau tidak bisa diabaikan begitu saja dalam bidang keagamaan.
3. Hajah Siti Saodah
Seorang ustadzah yang rajin memberikan ceramah-ceramah agama di langgar-langgar, masjid-masjid maupun rumah-rumah, khusus untuk wanita. Sebagian masyarakat Condet, terutama wanita mengatakan bahwa hajah Siti Saodah memilik jasa yang cukup besar dalam bidang keagamaan di Condet. Selain memberikan ceramah, Hajah Siti Saodah juga rajin memberikan pelajaran alat music rebana bagi ibu-ibu di daerah Batu Ampar.
Kehidupan Masyarakat Betawi di Condet
Profesi
Kehidupan masyarakat Condet pada jaman dulu berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang ini. Condet yang pada sekitar tahun 1980an masih didominasi orang local (Betawi), pada saat itu masih terasa kental dengan pola hidup orang Betawi. Pada waktu itu profesi masyarakat Condet mayoritas sebagai petani buah-buahan. Diantaranya yakni buah Salak dan Duku. Memang dua buah itulah yang menjadi primadona Condet. Namun sekarang setelah lahan mulai menyusut karena berdirinya rumah-rumah orang pendatang, menyebabkan masyarakat yang berprofesi sebagai petani jumlahnya menurun drastic. Kebanyakan masyarakat Condet sekarang ini berprofesi sebagai buruh, pegawai maupun pedagang.
Pakaian
Untuk pakaian, Condet mempunyai pakaian asli Betawi yang bernama baju Sadariah. Baju tersebut diperuntukkan untuk pria dengan warna hitam, setengah lengan, tidak berleher dan di bagian dada sedikit terbuka. Dengan celana yang disebut katok yang panjangnya 2/3 dan sedikit di bawah lutut, pakaian ini menjadi pakaian tradisioanal orang Betawi.
Sedangkan untuk wanita, baju sadariahnya mempunyai bentuk seperti kebaya sekarang. Baju ini diperlengkapi dengan renda-renda di tepi-tepinya. Waktu memakai diperlengkapi dengan tusuk baju yang biasanya adalah perhiasan juga.
Makanan dan Minuman
Jenis makanan dan minuman pada masa lalu mempunyai arti tertentu yang berkaitan dengan upacara tertentu. Contohnya upacara mauludan memerlukan hidangan yang lain dengan upacara perkawinan. Makanan-makanan tradisional yang banyak terdapat di Condet adalah kue lapis warna, wajik, geplak, manisan papaya, nasi kuning , bir pletok dan lain-lain. Sedangkan, untuk makanan sehari-hari tidak berbeda dengan yang kita kenal di Jakarta.
Pendidikan
Orientasi pendidikan yang terbesar adalah pendidikan agama Islam. Seorang anak belum dianggap cukup pendidikannya jika belum pernah mengecap pendidikan agama secara formal di madrasah maupun informal dalam pengajian-pengajian.
Sekitar 1970an, menurut buku “Condet Cagar Budaya Betawi”, lulusan di Condet rata-rata hanya sampai SD. Hal ini dikarenakan masyarakat Condet masih beranggapan bahwa sekolah merupakan produk dari Pemerintahan Kolonial Belanda.
Musik dan Tari
Rebana dan orkes gambus merupakan 2 jenis music yang masih bertahan hingga saat ini. Meskipun banyak jenis music yang masuk belakangan ini, namun rebana dan orkes gambus masih bisa dipertahankan. Pada masa lalu ada juga music dan tari, seperti gambang kromong, cokek, topeng Betawi, lenong wayang Betawi, cianjuran dan Tanjidor. Namun hampir sebagian besar tidak pernah dipertunjukkan lagi jika ada acara-acara di Condet.
Daftar Pustaka :
Ruchiat, Rachmat. 2011. Asal Usul Nama Tempat di Jakarta. Jakarta : Masup Jakarta
Shahab, Alwi. 2004. Betawi, Queen of The East. Jakarta : Republika
__________. 2006. Maria Van Emgels, Menantu Habib Kwitang. Jakarta : Republika
Wansania, Jopie, dkk. 1980. Proyek Sasana Budaya Jakarta. Jakarta : Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar